Kamis, 29 November 2012

PERFORMANS ITIK PETELUR SELAMA ENAM MINGGU






PERFORMANS ITIK PETELUR SELAMA ENAM MINGGU
(Laporan Praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa)

Oleh:
Kelompok II

Arista Pribadi                          1114141009
Atika Zahra Sri R.                   1114141011
Bekti Kurnia I.                        1114141014
Citra Nindya Kesuma             1114141016
Dina Sari Dewi                       1114141024
Fauzan Isnanda Dirgahayu     1114141030
Hermawan                               1114141038
Lasmi Ken Utari                     1114141045
 Maria Dwi C.                         1114141051
Putri Handayani                      1114141056
Rahmat Nurdiyanto                1114141057
Tegar Hanif Rifai                    0814061058
Tri Atika                                  1114141071




JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2012



KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayahNYA penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa ini dengan tepat waktu.
Atas tersusunnya laporan praktikum ini maka penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam terselesainya laporan praktikum ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih banyak kekurangn, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi tercapainya laporan praktikum yang lebih baik lagi kedepannya. Penulis berharap agar laporan ini dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis tetapi juga bagi semua orang yang membacanya.

Bandar Lampung, 29 November 2012

Penulis









LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum          : Performan Itik Selama Enam Minggu
Tempat Praktikum       : Kandang Jurusan Peternakan fakultas Pertanian Universitas Lampung
Tanggal Praktikum      : 23 Oktober – 27 November 2012
Kelompok                   : II  (Tiga)
Nama   dan NPM        :

Arista Pribadi                          1114141009
Atika Zahra Sri R.                   1114141011
Bekti Kurnia I.                        1114141014
Citra Nindya Kesuma             1114141016
Dina Sari Dewi                       1114141024
Fauzan Isnanda Dirgahayu     1114141030
Hermawan                               1114141038
Lasmi Ken Utari                     1114141045
 Maria Dwi C.                         1114141051
Putri Handayani                      1114141056
Rahmat Nurdiyanto                1114141057
Tegar Hanif Rifai                    0814061058
Tri Atika                                  1114141071


Jurusan                        : Peternakan
Fakultas                       : Pertanian
Universitas                  : Universitas Lampung
Bandar Lampung, 12 November 2012
Mengetahui ,
Dosen Mata Kuliah



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
LEMBAR PENGESAHAN
DAFTAR ISI
I.PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang………………………………………………………………………
B.     Tujuan ………………………………………………………………………………
II.TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………………………………
III.METODE KERJA………………………………………………………………………
A.    Waktu dan Tempat………………………………………………………………….
B.     Alat dan Bahan……………………………………………………………………..
C.     Cara Kerja…………………………………………………………………………..
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan…………………………………………………………………..
B.     Pembahasan…………………………………………………………………………
V.KESIMPULAN………………………………………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN










I.       PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang

Itik dikenal juga dengan istilah Bebek (bahasa Jawa). Nenek  moyangnya berasal dari Amerika Utara merupakan itik liar ( Anas moscha) atau Wild mallard. Terus menerus dijinakkan oleh manusia hingga jadilah itik yang diperlihara sekarang yang disebut Anas domesticus (ternak itik). Itik adalah hewan penurut, itik mudah di ternakkan dan dipelihara. Banyak sekali sumber daya yang bisa kita ambil dari bebek ini, ada telurnya, dagingnya bahkan kotorannya bisa di jadikan pupuk. Penggemar daging dan telur bebek sekarang semakin banyak, karena rasa dari dagingnya yang sangat lezat. Telurnya pun bisa dibikin telur asin yang tak kalah lezat dengan dagingnya. Kebutuhan akan ketersediaan daging dan telur itik ini sangatlah tinggi.

Pada umumnya tujuan pemeliharaan itik adalah untuk menghasilkan telur.Pemeliharaan itik dari masa ke masa, profilnya adalah peternakan itik rakyat atau itik kampung, yang skala pemeliharaannya kecil dan umumnya diumbar.Itik mempunyai karakteristik khas unggas petelur termasuk dalam tipe petelur ini antara lain berasal darijenis : Indian Runner, Khaki Khampbel dan Buff Orpington atau itik Buff. Dalam perkembangannya di Indonesia, Indian Runner banyak dipelihara di wilayah tertentu, misalnya di Kalimantan Selatan dikenal itik Alabio,di daerah Tegal disebut itik Tegal dan di Bali disebut Itik Bali. Kemampuan bertelurnya bila dipelihara intensif hingga 300 butir pertahun dan bila dipelihara semi insentif berkisar 90 - 100 butir saja.Prospek dari usaha pemeliharaan itik cukup baik mengingat konsumsi telur dari tahun ke tahun terus meningkat, pemeliharaannya sudah mengarah pada semi insentif maupun kearah insentif.

Usaha peternakan itik di Indonesia  telah  lama dikenal masyarakat. Agar usaha ini dapat memberikan keuntungan yang optimal  bagi  pemiliknya maka perlu diperhatikan beberapa hal yang menyangkut Manajemen pemeliharaan ternak itik. Namun sebelum seorang peternak memulai usahanya, harus menyiapkan diri dengan pemahaman tentang perkandangan, bibit unggul, pakan ternak, pengelolaan dan pemasaran hasil. Selain itu, peternak harus memperhatikan bagaimana hasil produksi telur untuk itik petelur yang diperoleh dengan mempertimbangkan susunan ransum yang tepat dan sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu, kami melakukan pemeliharaan ini untuk mengetahui bagaimana pengaruh ransum yang telah disusun dengan protein yang telah ditentukan yaitu 18%  terhadap produksi telur selama enam minggu.


B.Tujuan
Tujuan dilakukannya praktikum pemeliharaan Itik Petelur adalah :
1.      Mengetahui  penampilan performan Itik selama pemeliharaan dalam waktu enam minggu
2.      Mengetahui cara pemeliharaan  itik yang baik mulai dari pembuatan ransum hingga pemberian makan pada itik
3.      Mengetahui pertambahan bobot badan, konsumi ransum, FCR (Feed convertion ratio) itik selama pemeliharaan dalam waktu enam minggu.
4.      Mengetahui produksi telur pada masa pemeliharaan itik selama enam minggu











II.                TINJAUAN PUSTAKA


Produktifitas itik masih kalah dibanding ayam ras petelur. Paling tinggi kemampuan bertelur itik hanyalah 250 butir per ekor per tahun. Itik magelang (itik kalung) malahan hanya sekitar 180 butir per ekor per tahun. Sementara ayam petelur bisa sampai 300 butir. Tetapi untuk keperluan tertentu, telur itik tidak bisa tergantikan oleh telur ayam. Bahkan telur itik biru juga tidak bisa tergantikan oleh telur itik yang berwarna putih. Misalnya untuk keperluan telur asin dan martabak. Untuk dua produk tersebut, mutlak diperlukan telur itik yang berwarna biru. Karenanya, meskipun  volume produksinya relatif kecil dibanding telur ayam ras, peran telur itik tetap tidak akan tergusur oleh telur ayam ayam ras. Hingga agroindustri telur itik berkembang sesuai dengan hukum pasar. Profesionalitas pun berjalan. Bahkan kreatifitas juga bermunculan. Misalnya sistem penetasan telur dengan teknologi sekam yang hemat energi. Pemanfaatan sisa-sisa nasi dari warteg (warung tegal) untuk pakan itik dll. Sentra-sentra peternakan itik pun tumbuh di Cirebon, Kuningan, Brebes dan Tegal (itik tegal); Sukabumi, Cianjur, Magelang dan Boyolali (itik magelang); sekitar Mojokerto (itik mojosari); di Bali (itik bali); dan di Kab. Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan (itik alabio). Itu tadi merupakan sentra-sentra utama yang hasilnya dipasarkan secara nasional. Selain itu masih ada pula sentra-sentra kecil yang hasil telur maupun dagingnya hanya untuk konsumsi lokal. 

Di sentra-sentra itik tersebut, telah tercipta suatu sistem yang mengarah pada spesialisasi. Di Amuntai, Kab. Hulu Sungai Utara, ada peternak yang khusus menghasilkan telur konsumsi, ada yang hanya telur tetas, ada spesialis penetasan, spesialis pembesaran itik betina, itik jantan, bahkan ada yang spesialisasinya membuat kandang, meramu pakan, menyalurkan itik jantan dll. Pola agroindustri seperti itu, sudah merata terdapat di hampir semua sentra itik di Indonesia. Masing-masing jenis itik, memiliki spesifikasi tertentu yang sangat khas. Itik tegal berukuran kecil, posisi tubuh tegak dengan postur langsing, warna bulu cokelat muda cerah. Ukuran telur sedang, warna kulit telur biru cerah. Produktifitas sekitar 200 butir per ekor per tahun. Itik mojosari mirip dengan itik tegal. Bedanya, warna bulu lebih gelap, posisi tubuh lebih menunduk. Ukuran, warna kulit dan produktifitas telur sama dengan itik tegal. Itik magelang merupakan itik "raksasa". Karena ukuran tubuh serta telurnya lebih besar. Posisi tubuh lebih menunduk dari itik mojosari. Warna bulu lebih gelap. Ciri khasnya terdapat gelang warna (kalung) pada lehernya. Hingga kadang-kadang disebut sebagai itik kalung. Selain lebih besar, telur itik magelang juga berwarna biru agak gelap. Produktifitas telur paling tinggi 180 butir per ekor per tahun.

Itik bali rata-rata berwarna somi (cokelat muda). Sebab meskipun variasi warna itik bali sangat beragam, namun yang paling digemari para peternak adalah warna somi. Selain itu masih ada warna putih, hitam, sundihan (cokelat gelap bergaris hitam) dan sikep (warna elang). Ciri khas itik bali adalah adanya jambul pada bulu kepalanya. Hingga kadang-kadang itik bali disebut sebagai itik jambul. Ukuran telurnya lebih besar dibanding itik tegal, namun lebih kecil dari itik magelang. Warna  kulit telurnya putih. Produktifitasnya sedikit lebih kecil dibanding itik tegal maupun mojosari. Semua itik tadi, warna kulit kakinya kelabu agak kehitaman. Hanya itik alabiolah yang warna kulit kakinya oranye cerah, mirip itik peking. Warna bulu itik alabio abu-abu berbintik hitam. Ukuran tubuhnya kecil dengan posisi sangat menunduk. Ukuran telurnya paling kecil, dengan bentuk lebih bulat. Warna kulit telur abu-abu. Produktifitasnya bisa sampai 250 butir per ekor per tahun. Itik petelur yang dikembangkan di Inggris adalah khaki chambel yang merupakan silangan itik rouan Perancis, itik liar dan itik jawa (itik tegal). Produktifitas telurnya bisa lebih dari 250 butir per ekor per tahun. Namun telur khaki chambel kurang disenangi karena warna kulitnya putih seperti halnya telur itik bali.  Selain itik petelur tersebut, masih ada pula itik manila (entok) serta itik peking yang dipelihara untuk dimanfaatkan bulu serta dagingnya. Bulu itik manila/peking antara lain untuk shuttle cock dan pengisi bantal serta kasur.
     
Ada dua pola pemeliharan itik di Indonesia. Pertama pola tradisional (konvensional) dengan cara digembalakan. Kedua cara modern (intensif) dengan dikandangkan. Di Jawa, masih banyak pemeliharaan itik dengan pola tradisional. Satu kawanan itik berjumlah minimal 200 ekor dengan dua penggembala. Kawanan itik ini sama sekali tidak pernah "pulang" ke rumah pemiliknya. Mereka mengembara dari satu persawahan ke persawahan lain, sesuai dengan musim panen. Pada musim panen demikian, produksi telur itik tegal dan mojosari bisa mencapai 80% dari total populasi. Paling sedikit 60%. Sebab seluruh kebutuhan nutrisi itik tercukupi dari lahan penggembalaan. Karbohidrat dan protein nabati, tercukupi dari sisa-sisa padi yang rontok sehabis dipanen. Protein hewani akan tercukupi dari siput, anak kodok, cacing, yuyu (kepiting sawah) dll. Selain itu di sawah tersebut juga terdapat gulma seperti genjer, semanggi, bengok dll. yang akan memenuhi kebutuhan serat kasar, vitamin dan mineral bagi itik. Kualitas telur itik gembalaan luarbiasa baik. Kulit telurnya sangat tebal dan kuat,  berwarna biru cerah kehijauan. Warna kuning telurnya benar-benar kuning mengarah ke jingga. Para produsen telur asin kualitas baik akan selalu memilih telur itik gembalaan. Demikian pula halnya dengan para pembibit itik (pengusaha penetasan). Sebab daya tetas telur itik gembalaan rata-rata mencapai 80%. Para pedagang martabak, malahan mengharuskan bahan baku dari telur itik magelang hasil gembalaan. Sebab selain berukuran besar, warna kulit telur benar-benar biru tajam hinga  sangat menarik.

Itik gembalaan selalu diberi pejantan. Tiap 100 ekor terdiri dari 90 betina dan 10 jantan. Karenanya telur itik gembalaan akan selalu terbuahi (fertil), hingga paling baik untuk ditetaskan. Itik-itik ini benar-benar tidak pernah pulang. Kalau siang mereka merada di sawah yang habis dipanen, malam harinya mereka juga tidur di pinggiran sawah tersebut. Agar itik-itik itu tidak kabur, lokasi tidur tersebut dibatasi dengan pagar sederhana dari anyaman bambu 50 cm. Pagar ini didirikan dengan patok-patok bambu yang bisa dicabut dan dipasang. Pagarnya sendiri bisa digulung dan diangkut ke mana-mana. Apabila hujan, para penggembala sudah siap dengan tenda-tenda plastik (bivak) yang dikerudungkan di atas pagar tersebut. Penggembalanya sendiri akan berjaga-jaga dan tidur bergantian di dekat tempat itik itu. Paginya, itik akan bertelur di sawah dan  segera dikumpulkan oleh penggembala untuk dijual ke pasar terdekat. atau didatangi tengkulak. Apabila lokasi penggembalaan itu sudah habis cadangan pakannya, itik berikut penggembalanya akan pindah ke tempat lain. Demikian seterusnya sampai itik tersebut harus diafkir untuk digemukkan dan dipotong.

Pada pemeliharaan dengan sistem kandang, itik sama sekali tidak pernah pergi-pergi. Kandang seluas 5 X 10 m. misalnya, akan mampu menampung 100 ekor itik. Sepertiga atau seperempat dari luas kandang tersebut diberi atap untuk tidur dan bertelur itik. Pakan itik yang dipelihara secara intensif ini sangat bervariasi. Paling ideal  itik diberi pakan ayam ras petelur yang saat ini harganya sudah sekitar Rp 2.500,- per kg. Satu kg. pakan cukup untuk memberi ransum 10 ekor itik dewasa. Hingga biaya pakan per ekor per hari jatuhnya Rp 250,- Harga 1 butir telur antara Rp 600,- sd. Rp 800,- di tingkat peternak. Harga itik dara siap telur sekitar Rp 35.000,- per ekor, dengan masa bertelur 1,5 tahun. Berarti penyusutan per ekor per hari Rp 64,- Masih harus diperhitungkan pula biaya penyusutan kandang dan peralatan, upah karyawan, rasio itik bertelur dan tidak bertelur dsb. Hasil telur yang ada misalnya 80% dari 90 ekor (betina) = 72 ekor. Dengan harga Rp 800, maka pendapatan kotor per hari dari 100 ekor itik Rp 57.600,- Pendapatan itu akan digunakan untuk pakan bagi 100 ekor itik X 250,- = Rp 25.000,- Sisanya untuk biaya penyusutan induk, kandang, upah buruh dll. hingga akan tersisa pendapatan bersih. Apabila penggunaan pakan toko kurang menguntungkan, maka bisa dicari pakan alternatif. Misalnya ampas tahu, dedak, nasi kering (eks warteg), kepala udang dll.

Beda dengan ayam ras maupun kampung (petelur), itik akan mengalami rontok bulu (laring) setelah satu periode, sekitar 1 sd. 1,5 tahun. Pada saat rontok bulu ini, produksi akan berhenti total selama 3 bulan.  Biasanya para peternak yang berpengalaman, tidak akan menunggu sampai periode rontok bulu ini datang secara alamiah. Mereka akan memaksa "puasa" itik mereka selama 3 hari, dengan hanya diberi minum saja. Dengan dipuasakan demikian, itik akan langsung masuk periode rontok bulu. Apabila dalam satu angkatan, peternak memiliki 300 ekor itik, maka masa laring ini akan dibuat bertahap. Pertama akan dirontokkan 100 ekor itik. Sementara yang 200 tetap produktif. Setelah 3 bulan, kelompok rontok bulu I sudah akan mulai produksi kembali. Pada saat itulah kelompok II sebanyak 100 ekor dipuasakan hingga masuk periode rontok bulu. Hingga tetap ada 200 ekor itik yang berproduksi. Pada saat kelompok rontok bulu II mulai produktif, kelompok III dirontokkan. Dengan melakukan perontokan secara bertahap demikian, maka dari 300 ekor itik tersebut, hanya 100 ekor yang tidak berproduksi. Itik yang sudah mengalami laring sekali, masih bisa dipelihara sebagai petelur selama satu periode lagi. Pada saat menjelang laring II, itik digemukkan untuk diafkir dan dipotong. Ada pula peternak yang tetap mempertahankan pemeliharaan sampai laring III, namun produktifitasnya sudah akan sangat menurun. 

Itik / bebek sudah mulai bertelur mulai bulan pertama hingga bulan kedua belas, dengan dua tahap produksi telur. Pada satu masa pemeliharaan tersebut, itik / bebek mengalami rontok bulu selama dua bulan (bulan keenam dan ketujuh), sehingga pada masa itu itik / bebek tidak bertelur. Tahap produksi pertama (bulan pertama hingga kelima) idealnya produktivitas itik / bebek rata-rata 70% dari jumlah populasi, dan tahap kedua (dari selesai rontok bulu hingga afkir) rata-rata 60%.

Adanya masa tidak bertelur tersebut, peternak harus mengatur pola produksi, sehingga kontinuitas telur itik / bebek yang dihasilkan dapat terus terjaga (berkelanjutan). Oleh karena itu harus ada penambahan populasi itik / bebek pada waktu tertentu. Bibit itik / bebek ditambahkan secara bertahap, yaitu 300 ekor setiap tiga bulan sekali sehingga pada akhir tahun populasi itik / bebek tersebut telah tetap berjumlah 1200 ekor.

Kebutuhan luasan kandang itik / bebek petelur pola intensif, untuk tempat tidur adalah 3 ekor/m2, serta tempat bermain (pengganti tempat “angon”) 2 ekor/m2. Satu unit kandang dengan luas 252 m2 tersekat menjadi 3 buah kandang, mampu menampung 300 ekor itik / bebek. Penambahan 300 ekor per tiga bulan tersebut menyebabkan populasi itik / bebek menjadi 1200 ekor, sehingga dibutuhkan 4 unit kandang sistem ren.

Itik / bebek diberi makan penuh, yaitu tiga kali sehari (pagi-siang-sore). Pakan yang digunakan pada pola ini adalah pakan buatan (pabrik). Kebutuhan pakan untuk itik / bebek petelur adalah 150 g/ekor/hari, sehingga setiap bulannya dibutuhkan 4,5 kg/ekor. Pemberian obat dan vitamin pada itik / bebek petelur dengan pola intensif dilakukan setiap satu bulan sekali. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pemeliharaan itik / bebek petelur dengan pola ini adalah 1 orang setiap 100 – 500 ekor itik / bebek. Untuk alas tidurnya, kandang itik / bebek petelur perlu diberi jerami atau sekam, dan diganti setiap bulannya

Bahan baku Ransum itik pada umumnya digolongkan menjadi dua, yaitu bahan baku nabati dan bahan baku hewani. Bahan baku nabati merupakan sumber energi terbaik untuk itik dan cara pengadaanya relatif murah. 
Bahan Baku Nabati itu antara lain Dedak halus, Jagung kuning, Bungkil kedelai, Ampas tahu, Tepung daun pepaya, Tepung daun Lamtoro, Tepung daun Turi.
Bahan Baku Hewani antara lain : Keong, Bekicot, Cacing.
Ada juga yang dalam bentuk olahan pabrik, seperti : tepung ikan, Tepung bulu, Tepung darah, Tepung limbah udang, Tepung kerang, Tepung kepala udang.
Selain pakan-pakan diatas, Bebek / ITIK masih membutuhkan pakan tambahan yang mengandung gizi, nutrisi ternak lengkap YANG BELUM TERDAPAT pada pakan-pakan diatas untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi telur.












III.             METODE KERJA

A.Waktu dan Tempat

Praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa dalam kegiatan pembuatan ransum itik dilakukan di kandang itik  Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas lampung setiap minggunya yaitu pada hari selasa yang dimulai tanggal 23 Oktober – 27 November 2012 yang digunakan untuk ransum itik selama seminggu.

Praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa dalam acara pemeliharaan itik selama enam minggu dilakukan di kandang itik Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung pada tanggal 23 Oktokber – 27  November 2012.

B.Alat dan Bahan

Pada praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa dalam kegiatan Pembuatan ransum dalam bentuk Mash adapun alat dan bahan yang digunakan adalah sebagai berikut :

B.1. Bahan
1.      Hidrolisat tepung bulu ayam
2.      Hidrolisat tepung udang
3.      Bungkil kelapa sawit
4.      Onggok
5.      Dedak
6.      Minyak kelapa
7.      CaCO3
8.      Metionin (digunakan pada pembuatan  ransum minggu pertama)
9.      Air (ditambahkan pada saat pemberian makan pada itik)

B.2. Alat
1.      Timbangan
2.      Ember  
3.      Karung
4.      Sendok semen

C.Cara Kerja

Pada praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa dalam kegiatan Pembuatan Ransum itik, adapun susunan ransum itik terlampir.
Adapun langkah-langkah kerja dalam pembuatan ransum itik adalah sebagai berikut :
1.      Menimbang bhan- bahan pakan yang akan digunakan sesuai dengan susunan ransum yang dapat dilhat pada tabel
2.      Mencampurkan bahan pakan tersebut dimulai dari bahan pakan yang paling banyak sampai bahan pakan yang paling sedikit
3.      Mengaduk bahan pakan sampai homogen

Pada praktikum Ilmu Nutrisi Aneka Ternak dan Satwa dalam kegiatan pemeliharaan itik,, adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan setiap harinya dalam pemeliharaan itik adalah ebagai berikut :

1.      Pemberian ransum itik
Itik diberikan ransum (mash) sebanyak 200 gram per ekor per hari yang diberikan kepada itik  setiap hari yaitu pada pagi dan sore hari.

2.      Pemberian minum
Itik  diberikan minum sebanyak satu ember sedang di pagi hari dan di sore hari, namun jumlah pemberian dapat berubah tergantung dengan konsumsi kebutuhan itik.
3.      Penimbangan bobot tubuh itik
Penimbangan bobot tubuh itik dilakukan setiap satu minggu sekali untuk mengetahui partambahan bobot tubuh itik
































IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN


A.      Hasil Pengamatan

Tabel 1. Bobot Tubuh Itik
NO. urut
Awal minggu
Minggu ke-1
Minggu ke-2
Minggu ke-3
Minggu ke-4
Minggu ke-5
Minggu ke-6
Kg
1
1
0,9
1,5
1,6
1,7
1,5
1,5
2
1,9
1,2
1,6
1,9
1,9
1,6
1,6
3
1,2
1
1,2
1,8
1,9
1,5
1,4
4
1,1
1
1,2
1,4
1,7
1,4
1,3
5
1,1
1
1,1
1,4
1,8
1,3
1,6
6
1,2
1,2
1,2
1,5
1,8
1,3
1,3
7
1,2
1
1,5
1,6
1,7
1,5
1,4
8
1,4
1,2
1,1
1,5
1,7
1,8
1,5

Tabel 2. Konsumsi pakan itik per minggu

Minggu ke-1
Minggu ke-2
Minggu ke-3
Minggu ke-4
Minggu ke-5
Minggu ke-6
Pakan (kg)
4,4
12
12,4
13,2
11,4
11,2
PBT (kg)
-0,2
0,275
0,25
0,1875
-0,2875
-0,0375
FCR
-2,75
5,45
6,25
8,8
-4,96
-37,33
Perhitungan terlampir


Tabel 3. Produksi telur per hari

Minggu ke-1
Minggu ke-2
Minggu ke-3
Minggu ke-4
Minggu ke-5
Minggu ke-6
Produksi Telur (Butir )
-
13
15
16
20
11


B.       Pembahasan

Itik adalah salah satu jenis unggas air (water fowls) yang termasuk dalam kelas aves, ordo anseriformes, famili anatidae sub famili anatinae, tribus anatinae dan genus anas (Srigandono, 1997). Itik merupakan unggas air yang cenderung mengarah pada produksi telur, dengan cirri-ciri umum : tubuh ramping, berdiri hampir tegak seperti botol dan lincah (Rasyaf, 2002). Menurut Windhyarti (2002), hampir seluruh itik asli Indonesia adalah itik tipe petelur.

Tujuan akhir dari suatu usaha peternakan itik petelur adalah produksi telur
yang optimal. Telur adalah hasil sekresi dari sistem produksi. Untuk mengetahui
produksi telur harian dalam jangka waktu tertentu dapat dilihat dari duck day.
Menurut Rasyaf (2002), duck day adalah perhitungan yang sering dipakai dalam
menentukan produksi telur. Perhitungan produksi telur dapat dilakukan dalam bentuk persentase, perhitungan ini berdasarkan jumlah produksi harian, bulanan dan kelompok.

Praktikum pemeliharaan itik dimulai pada tanggal 23 Oktober – 27 November 2012 selama enam minggu bertempat di Kandang Itik, Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

Itik dipelihara selama enam minggu dengan pemberian ransum berbentuk mash sebanyak 200 gram/ekor/hari, dan penimbangan bobot tubuh dan konsumsi ransum  dilakukan setiap satu minggu sekali.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh praktikan selama pemeliharaan itik dihasilkan data bahwa rata-rata  bobot awal itik adalah 1,2625 kg  yang kemudian pada minggu pertama, minggu ke-5 dan minggu ke-6  setelah pemeliharaan itik mengalami penurunan bobot tubuh. Pada minggu pertama penurunan bobot tubuh dikarenakan adanya penambahan metionin pada ransum itik sehingga menyebabkan palatabilitas pada itik menurun. Metionin adalah asam amino mengandung sulfur dan essensial (undispensable) bagi manusia dan ternak monogastrik sehingga metionin harus tersedia di dalam ransum ternak. Schutte et al. (1997) menyatakan bahwa metionin adalah suatu zat esensial untuk unggas. Asam amino metionin sangat diperlukan untuk kecepatan pertumbuhan dan hidup pokok semua hewan. Salah satu akibat bila terjadi kekurangan asam amino metionin adalah lambatnya laju pertumbuhan (Prawirokusumo et al., 1987).

Pemberian metionin perlu memperhatikan tingkat protein, bentuk fisik dan palatabilitas bahan pakan. Selain itu, karena metionin diketahui sebagai asam amino yang bersifat racun bila berlebihan, sehingga pemberiannya harus diperhatikan dengan baik. Kelebihan pemberiannya akan berakibat buruk pada penambahan berat badan. Terjadinya penurunan selera makan atau penurunan laju pertumbuhan dapat disebabkan oleh antagonisme asam-asam amino, walaupun efek buruknya dapat dikoreksi dengan asam amino pembatas (metionin, lysin dan triptophan) (Pesti et al., 2005).

Sedangkan pada minggu ke-5 dan ke-6 penurunan bobot tubuh dikarenakan  manajemen pemberian ransum pada itik yang  tidak teratur. Namun pada minggu ke-2, ke-3 dan ke-4 itik mengalami pertambahan bobot tubuh karena itik mulai beradaptasi terhadap lingkungan dan pakan yang diberikan.
Pada akhir praktikum pemeliharaan itik, praktikan juga menghitung pertambahan bobot tubuh dan FCR  pada ternak itik.

·         Pertambahan bobot tubuh (PBT)
Salah satu hal penting dalam produksi ternak adalah dengan mengetahui pertambahan bobot tubuhnya.pertambahan bobot badan diperoleh melalui pengukuran kenaikan bobot badan dengan melakukan pertimbangan berulang-ulang dalam waktu setiap minggu selama enam minggu. Pada minggu kedua, ketiga dan keempat mengalami pertambahan bobot tubuh sedangakan pada minggu pertama, kelima dan keenam itik mengalami penurunan bobot tubuh.

·         FCR (feed convertion ratio)
Feed Converytion Ratio didefinisikan sebagai jumlah kilogram pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kilogram bobot tubuh.Pada minggu ke-1, minggu ke-5, dan minggu ke-6 didapat  nilai FCR negatif  karena pada minggu-minggu tersebut tidak ada pertambahan bobot tubuh melainkan penurunan bobot tubuh sehingga kecernaan itik terhadap ransum yang diberikan tidak effisien. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu antara lain, manajemen pemberian pakan yang tidak teratur, strees, kebersihan kandang, keseimbangan konsumsi pakan dan air yang diberikan dan jumlah pakan yang diberikan tidak merata.

·         Produksi Telur
Produksi telur pada beberapa minggu memiliki perbedaan jumlah telur yang dihasilkan. Banyak sedikitnya jumlah telur yang diproduksi kemungkinan dipengaruhi akibat manajemen waktu saat pemberian pakan. Disamping itu, palatabilitas terhadap ransum yang diberikan tiap minggunya bahkan setiap harinya tidak konstan melainkan berubah-ubah sehingga nutrisi yang dibutuhkan dalam memproduksi telur berkurang apabila pakan yang dikonsumsi sedikit, sebaliknya produksi telur akan meningkat apabila konsumsi pakan yang diberikan banyak. Dalam hal ini, kandungan nutrisi dalam ransum sangatlah berperan penting dalam produksi telur karena apabila kebutuhan nutrisi yang diberikan kurang dari jumlah yang dibutuhkan maka nutrisi yang dikonsumi hanya memenuhi kebutuhan hidup itik tersebut. Di samping itu, jika nutrisi dalam pakan yang dikonsumsi itik mencukupi maka nutrisi tersebut dapat memicu itik untuk memproduksi telur.

Menurut Suparyanto (2005) pertambahan bobot badan masih merupakan
parameter penting yang digunakan untuk menaksir ternak, pada saat pertambahan
bobot badan tinggi ada dugaan kuat bagi itik dara untuk cepat mulai bertelur.
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu kriteria yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan. Ensminger (1992) mendefinisikan pertumbuhan sebagai peningkatan ukuran tulang, otot, organ dalam dan bagian lain dari tubuh. Pertumbuhan merupakan faktor yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ternak unggas terutama pada periode awal. Oleh karena itu, pertambahan bobot badan menjadi penting pada periode ini untuk menunjang pertumbuhan dan proses produksi selanjutnya (Margawati, 1985).

·         Pakan
Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan anorganik yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan dan produksi. Agar pertumbuhan dan produksi maksimal, jumlah dan kandungan zat-zat makanan yang diperlukan ternak harus memadai (Suprijatna et al., 2005). Menurut North dan Bell (1990) zat makanan (nutrisi) dalam pakan digunakan tubuh unggas untuk menjaga keberlangsungan proses fisiologis yang secara umum berupa kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, produksi bulu, produksi telur dan deposit lemak. Pakan sangat berpengaruh terhadap produksi telur. Di samping itu, dari pengamatan yang telah dilakukan itik memerlukan penyesuaian atau adaptasi terhadap pakan yang diberikan karena pada percobaan ini pakan untuk itik dibuat satu kali untuk memenuhi kecukupan pakan dalam satu minggu sehingga setiap minggunya itik harus menyesuaikan pakan yang diberikan misalnya, pada minggu pertama menggunakan onggok kasar dan pada minggu kedua menggunakan onggok yang halus sehingga itik harus menyesuaikan konsumsinya terhadap ukuran pakan tersebut. Dari pengamatan yang telah dilakukan konsumsi pakan terhadap ransum yang diberikan, pada ransum dengan onggok halus konsumsinya meningkat atau lebih baik dibandingkan dengan ransum campuran onggok kasar. Terlihat bahwa masih banyak sisa onggok kasar pada wadah pakan tersebut bahkan ada yang berceceran di alas kandang.

Protein di susun dari 20 asam amino yang kompleks. Setiap hewan dan tumbuh-tumbuhan berbeda proteinnya, demikian pula antara jaringan lainya pada tumbuhan atau hewan yang sama. Yang memebedakan protein ini yaitu susunan asam amino yang membentuk protein tersebut. Sususnan ini juga akan membedakan sifat fisika dan kimia dari protein tersebut, demikian pula fungsi biologinya dalam tubuh.

Fungsi protein adalah untuk membentuk bagian-bagian penting dari tubuh hewan, misalnya jaringan lunak, otot, jarinan ikat, kolagen, kulit, rambut, kuku, bulu, dan paruh pada ayam. Protein darah berfungsi mengatur keseimbangan, tekanan osmosis, cadangan asam-asam amino, untuk pembekuan darah, pembawa oksigen dan pengangkut zay-zat makanan antara sel atau keseluruh tubuh. Selai dari itu protein juga berfungsi membentuk enzim dan hormone dalam tubuh.















V.  KESIMPULAN


Berdasarkan pemeliharaan dan pengamatan terhadap ternak itik yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

·         Kunci keberhasilan usaha produksi ternak itik terletak pada pelaksanaan program tata laksana pemeliharaan itik.
·         Kesalahan nutrisi pada masa pertumbuhan ini bisa menyebabkan itik terlambat mencapai kedewasaan kelamin sehingga itik tidak bisa berproduksi pada umur yang diharapkan.
Dalam usaha ternak itik secara intensif, ada tiga evaluasi pokok yang memiliki andil keberhasilan
yakni:
·         1.Bibit itik; karakteristik ekonominya dalam menunjang keberhasilan usaha adalah  20%.
2.Makanan itik; dalam menunjang keberhasilan usaha mempunyai andil sebesar 30%.
3.Tata laksana pemeliharaan, termasuk kandang, cara pemeliharaan dan ketrampilan, memegang  peranan yang sangat besar
.
·         Performans itik sangat dipengaruhi oleh ransum guna mencukupi kebutuhan hidup pokok pertumbuhan bulu dan tambahan bobot tubuh.
·         Pemeliharan itik harus memperhatikan susunan ransum, bentuk pakan, dan manajemen pemberian ransum.
·         Tinggi rendahnya produksi telur dapat dipengaruhi oleh manajemen pemberian pakan yang teratur.
·         Pertambahan bobot tubuh pada itik mengalami penurunan dan peningkatan setiap minggunya, dikarenakan manajemen pemberian ransum yang tidak teratur. Begitu juga pada FCR nya yang mengalami penurunan dan peningkatan.



DAFTAR PUSTAKA


Anggrorohadi, Pemadi dan Sudawonadi S.1993.Sumber Daya Sarana dan Prasaran Peternakan Bandung:Balai penelitian peternakan

Hendro, Sunarjono.1989.Kiat Sukses Beternak Itik.Jakarta:Balai Penyuluhan Peternakan.

Abdi, Sucipto.1987.Perawatan Dalam Beternak Itik.Jogja:Balai Penyuluhan Peternakan

Ensminger, M. A. 1992. Poultry Science (Animal Agriculture Series). 3th Edition.Interstate Publisher, Inc. Danville, Illionis.

Hardjosworo, P. S. 1985. Konservasi ternak asli (Laporan Penelitian). Fakultas Peternakan Institut Petanian Bogor, Bogor.

Hardjosworo, P. S. 1989. Respon biologik itik tegal terhadap pakan pertumbuhan dengan berbagai kadar protein. Disertasi. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hardjosworo, P. S. dan Rukmiasih. 2001. Itik, Permasalahan dan Pemecahan. Penebar Swadaya, Jakarta.

Kurniawan, I. 2005. Morfometri kelompok itik cihateup pada masa pertumbuhan.Skripsi. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Leeson, S. 2000. Egg numbers and size both influence broiler yields. Service Bulletin. No. 13. University of Georgia, Georgia.











































LAMPIRAN


















LAMPIRAN PERHITUNGAN

A.      Rata-Rata Berat Badan Itik

Minggu Awal
 Σ Bobot Itik / Σitik     = 10,1/8
                                    = 1,2625 kg

Minggu 1
 Σ Bobot Itik / Σitik     = 8,5/8
                                    =1,0625 kg

Minggu 2
 Σ Bobot Itik / Σitik     = 10,4/8
                                    = 1,3375 kg

Minggu 3
 Σ Bobot Itik / Σitik     = 12,7/8
                                    = 1,5875 kg

Minggu 4
 Σ Bobot Itik / Σitik     = 14,2/8
                                    = 1,775 kg

Minggu 5
 Σ Bobot Itik / Σitik     =11,9/8
                                    =1,4875 kg

Minggu 6
 Σ Bobot Itik / Σitik     = 11,6/8
                                    = 1,45 kg
B.       Pakan

Minggu 1
Σ Konsumsi Pakan/ Σ Itik = 4,4/8
                                          = 0,55 kg
Minggu 2
Σ Konsumsi Pakan/ Σ Itik = 12/8
                                          = 1,5 kg
Minggu 3
Σ Konsumsi Pakan/ Σ Itik = 12,4/8
                                          = 1,55 kg
Minggu 4
Σ Konsumsi Pakan/ Σ Itik = 13,2/8
                                          = 1,65 kg
Minggu 5
Σ Konsumsi Pakan/ Σ Itik = 11,4/8
                                          = 1,425 kg
Minggu 6
Σ Konsumsi Pakan/ Σ Itik = 11,6/8
                                          = 1,4 kg

C.  Pertambahan Bobot Badan

Minggu 1
Bobot Minggu 1 –  Bobot Awal = 1,0625 kg - 1,2625 kg = -0,2 kg

Minggu 2
Bobot Minggu 2 –  Bobot Minggu 1 = 1,3375 kg - 1,0625 kg = 0,275 kg

Minggu 3
Bobot Minggu 3 –  Bobot Minggu 2 = 1,5875 –  1,3375 kg = 0,25 kg

Minggu 4
Bobot Minggu 4 –  Bobot Minggu 3 = 1,775 kg - 1,5875kg   = 0,1875 kg

Minggu 5
Bobot Minggu 5 –  Bobot Minggu 4 = 1,4875 - 1,775 kg = -0,2875 kg

Minggu 6
Bobot Minggu 6 –  Bobot Minggu 5 = 1,45 - 1,4875 = -0,0375 kg

D.   FCR

Minggu 1
 ΣKonsumsi Pakan/PBT = 0,55/-0,2 = -2,75

Minggu 2
 ΣKonsumsi Pakan/PBT = 1,5/2,75 = 5,45

Minggu 3
 ΣKonsumsi Pakan/PBT = 1,55/0,25 = 6,2

Minggu 4
 ΣKonsumsi Pakan/PBT = 1,65/0,1875 = 8,8

Minggu 5
 ΣKonsumsi Pakan/PBT = 1,4275/-0,02875= -4,96

Minggu 6
 ΣKonsumsi Pakan/PBT = 1,4/-0,0375 = -37,33

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Poll

About Us

Total Pageviews

Popular Posts

Pengikut

Labels

Links

Popular Posts